19 Agustus 2022
Google search engine
BerandaNTBBRIN Jadikan NTB Narasumber, Bangun Ekonomi Daerah Melalui Teknologi Pengemasan Makanan

BRIN Jadikan NTB Narasumber, Bangun Ekonomi Daerah Melalui Teknologi Pengemasan Makanan

Mataram, pelitanews – Nusa Tenggara Barat memiliki berbagai macam olahan kuliner legendaris yang dapat dicicipi ketika para wisatawan berkunjung. Namun, kuliner legendaris tersebut tidak dapat bertahan lama dan tidak bisa menjadi pilihan buah tangan, terlebih pandemi menyerang sehingga IKM yang memproduksi olahan makanan omsetnya menurun drastis termasuk merumahkan para karyawannya. Sehingga Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Dinas Perindustrian NTB berinisiatif untuk melakukan teknologi dalam pengemasan olahan makanan.

Sebagai apresiasi kepada Gubernur NTB dengan industrialisasi kerayakyatannya yang mengembangkan nilai tambah produk lokal melalui kemasan steril dan higenis, Badan Riset Dan Inovasi Nasional mengundang Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, SE., ME dalam untuk menjadi narasumber dalam Webinar Diseminasi dan Bimtek Pemanfaatan Riset Inovasi Daerah Seri 5 melalui Zoom Meeting yang diadakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional pada hari Rabu (03/08/2022).

Kini, Kuliner Legend merupakan salah satu program industrialisasi unggulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB. Melalui Dinas Perindustrian terus mendukung, dan memberikan pendampingan tentang peningkatan kualitas, sehingga bisa bersaing di pasar internasional. Mendorong lahirnya produk hilir, berupa kuliner legend dalam kemasan, sehingga tahan lebih lama. Dengan pengemasan terdapat peningkatan ekonomi yang berdampak pada sektor lain dan searah dengan Industri Prioritas Nasional. Selain itu, dengan adanya pengemasan olahan pangan juga membentuk rantai pasok tersendiri.

Nuryanti mengapresiasi dan berterimakasih terhadap riset riset dan pendampingan yang dihasilkan oleh LIPI kini menjadi BRIN dan perguruan tinggi hingga terciptanya Kuliner Legend dalam Kemasan.

“Kami sangat terbantu, dengan adanya riset-riset yang dilakukan oleh BRIN. Pelaku industri utamanya, Pemerintah Provinsi tidak sedetail itu sangat terbantu dengan riset yang dilakukan oleh BRIN,” pungkasnya.

Nuryanti menambahkan, NTB sudah membranding 3 (tiga)  Kuliner Legend yang sudah resmi memiliki ijin edar oleh BPOM yaitu Ayam Taliwang, Sate Rembige dan Ayam Rarang. Sate Rembige denhan merek Goyang Lidah yang awalnya memiliki daya tahan 3-4 hari saja, bisa menjadi 1 (satu) tahun setelah dilakukannya riset pendampingan mulai proses produksi sampai alat-alat apa saja yang harus digunakan agar proses produksi bisa higenis dan steril tanpa bahan pengawet.

“Dengan adanya teknologi pengemasan kini Tiga Kuliner Legend tersebut bisa dijadikan oleh oleh untuk para wisatawan yang berkunjung ke NTB. Disperin NTB juga mengembangkan industri kuliner dalam kemasan, semuanya dengan bahan baku menggunakan produk-produk lokal.” Sambungnya.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Aldicky Faizal Amri selaku narasumber kedua, dikutip dari Rilis BRIN, menyampaikan bahwa pengemasan adalah sistem yang terkoordinasi, untuk menyiapkan bahan atau barang menjadi siap didistribusikan, ditransportasikan, disimpan, dijual, dan dikonsumsi. Sedangkan, fungsi pengemasan, yaitu: promosi, melindungi kualitas produk, estetika, dan edukasi. Dalam proses pengemasan makanan dan minuman dalam kemasan, ada beberapa kategori, seperti: proses thermal konvensional, aseptik, proses thermal modern, dan non-thermal modern. Kategori yang sudah kami kembangkan selama ini, yaitu proses thermal konvensional.

Hal ini, lanjut Aldicky, berpusat pada pemanfaatan riset sterilisasi, untuk meningkatkan nilai tambah. Peran dan fungsinya, untuk melindungi bahan pangan segar, maupun bahan pangan olahan, dari penyebab kerusakan secara fisik, kimia, dan mekanis. “Fungsi utamanya, untuk mempertahankan bahan dalam kondisi higienis, dan bersih, mempertahankan gizi produk yang terkemas, media informasi, dan promosi,” lanjutnya.

Dari fungsi pengemasan tadi yang menjadikan aktifitas nilai tambah, ada beberapa parameter yang harus diperhatikan oleh para pengolah. Pada saat proses produksi yang dijadikan standar kualifikasi oleh Badan POM, dalam peraturan perundangannya. “BPOM melihat apakah proses yang penting ini sudah bisa dipenuhi oleh para UKM, karena terkait faktor keamanan. Parameter berikutnya, yang harus disikapi dengan baik oleh UKM, maupun kami, sebagai pihak yang mengembangkan teknologi, adalah waktu pengemasan, temperatur, dan kebersihan,” paparnya.

Koordinator Desiminasi dan Pemanfaatan Inovasi dan Riset Daerah BRIN, Erwin Syachrial, saat menutup webinar tersebut mengapresiasi inovasi Pemerintah Provinsi NTB terkait Kuliner Legend dalam kemasan, menurutnya, ini merupakan sebuah terobosan yang bisa menaikkan ekonomi. Bahkan dari produk yang dihasilkan telah memiliki pasar dan reseller hingga luar negeri.

“Sebuah inovasi dan trobosan luar biasa. Makanan yang tadi disampaikan bertahan hanya beberapa hari, bahkan kini bisa sampai satu tahun dengan suhu ruang, bukan dalam freezer. Sudah punya reseller di luar negeri juga bu. Selamat ibu atas capaiannya.” Tutupnya.(red)

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

BERITA Popular

Recent Comments

error: Content is protected !!